MARATON PENTAS???
August 7, 2008
Huah, kayanya kali ini gw kemakan dengan omongan gw sendiri deh, gw iya-in aja hampir semua ajakan untuk pentas en proyek ini itu, huahua…ternyata yang namanya waktu cuma 24 jam sehari, belum kepotong sama waktu untuk nyantai dan mungkin beberapa jam ketiduran, haha.
Semuanya bermula dari keinginan gw untuk mengadakan konser kecil2an dalam rangka ada seorang temen gw yang bakal kuliah musik di Amrik, dan lama kelamaan program yang mau kita mainkan makin bertambah, jadi gw pikir, kenapa ngga tambahin sekalian lagu-lagu big band? tanggal lalu ditentukan sebelum si Marcia ini pergi tanggal 17 Agustus nya, kita resital tanggal 12 Agustus jam 7 malem di UPH Concert Hall.
Dan lama kelamaan pula ajakan pentas lain-lainnya pun berdatangan dan semakin ramai, salah satunya ajakan untuk ikutan bantuin main bareng St. Theresia School Orchestra di mana gw salah satu pengajar klarinetnya, konser sukses! untungnya gw gak mengiyakan untuk bikin aransemen buat mereka, haha.
Lalu gak lupa konser rutin The Circle di Teater Utan Kayu yang uda lama gak kita lakukan, dan untungnya untuk yang satu ini ada temen-temen yang bantu jadi panitia, sehingga untuk yang satu ini adalah yang paling oke persiapannya, kita bakal pentas di sana hari Kamis, tanggal 14 Agustus jam 8 malem.
Sonic People diminta pentas pula di Jakarta International Blues Festival 2008 tanggal 13 nya, dan gw sekalian ajakin 426 Big Band nya untuk ikutan pentas karena sekalian latian, hehe. Acara yang satu ini emang bakal dimeriahin sama musisi-musisi blues papan atas Indonesia, juga band-band blues manca negara (haha, manca negara, istilahnya jadul abez).
Namun kegiatan-kegiatan di kantor (kantor = di kampus) makin menggila, makanya gw pikir sekalian aja lah tuh resital bareng si Marcia dijadiin acara fakultas aja, sekalian untuk menyambut mahasiswa-mahasiswa angkatan 2008 yang baru akan masuk minggu depan nanti. Yah, biar ini sekalian jadi proyek percontohan yang akan dijadiin acara tahunan deh. Kan sekalian nunjukkin sisi musikalitas klasik, kontemporer dan jazz dari UPH Conservatory of Music ini.
Belum cukup dengan semua itu, tiba-tiba ada seorang temen yang gw kenal dari pacar gw, ngajakin untuk bikin musik ilustrasi untuk film pendek yang sedang digarapnya. Dan gw waktu itu pikir, kenapa ngga? nyantai ini kan proyeknya? haha, ternyata minggu berlalu dan para sineas muda ini terus nanyain kapan bisa musiknya digarap, dan makin lama pun makin ketauan bahwa waktu gw makin sempit untuk bikin musiknya, karena mereka harus putar perdana filmnya dalam waktu dekat, maklum, ada banyak pihak yang terlibat dalam film itu yang harus pergi ke luar negeri, masa gak ada mereka di pemutaran film perdananya? Huah! akhirnya gw paksakan diri semalaman suntuk gak tidur untuk rampungin musiknya hanya dalam semalam (!) Yahh, konsekuensinya adalah, hasil kurang maksimal
untungnya film itu pun belum final, masih akan diedit lagi sebelum mereka mengirimkan karyanya itu ke festival film pendek internasional di Kanada, Eropa, dan lain-lainnya nanti.
Akhirnya Lapangan di Atas Awan ini rampunglah versi "demo" nya. Haha, gak cuma band indie yang punya versi "demo" karya-karyanya yah?
Lalu dalam rangkaian UPH Festival ini akan banyak acara yang mempekerjakan gw sebagai pemain klarinet buat Piano Trio nya Beethoven, lalu sebagai penata musik dan gw blum menyelesaikan satu pun karya untuk mereka latian Selasa depan (!), belum termasuk UPH Fest susulan di Surabaya tanggal 22-24 Agustus nanti, hadoohhh….
Semua memang punya harga, namun di balik itu pasti akan ada suatu pengalaman yang memberikan pelajaran. Namun sayangnya pelajaran ini agaknya sedikit gw pandang tidak kedua mata, haha, sehingga seharusnya proyek demi proyek ini bisa lebih maksimal lagi memberi makna buat mereka yang menonton konser.
Hmh, setelah maraton ketiga pentas itu, 12, 13, 14 Agustus, masih menunggu kerjaan lainnya, musik untuk pentas drama musikal Natal "The Grinch" (dateng yahh!!) dan bulan September ada sebuah kuintet tiup dari Kroasia yang minta gw bikinin aransemen musik, juga akhir September harus kumpulin karya orkestra baru untuk kompetisi di Jepang.
Huah, pusingnya, dan minggu lalu gw mencoba untuk "melarikan diri"
sejenak untuk menyegarkan pikiran, ikut temen-temen naik Gunung Gede
dan nginep di atas sana selama semalem. Namun hasilnya? PEGEL ABIEZZ!!! Memang cukup mahal harga yang harus dibayar untuk memacu diri berkarya yah?!
Musik Musim Semi, QUATUOR DIOTIMA dari Perancis
May 11, 2008
Malam itu pada awalnya hanyalah seperti malam-malam lainnya menjelang
pertunjukkan musik apa pun yang biasa dihelat di pusat kebudayaan
Erasmus Huis. Antrian yang cukup padat mewarnai penantian akan sebuah
pentas musik kamar yang dewasa ini dapat makin sering kita nikmati di
sela-sela hingar-bingarnya kehidupan ibukota. Namun ternyata apa yang
dapat kita alami malam itu tidaklah sama layaknya pada malam-malam
lainnya. Setidaknya musim semi telah tiba dan sejuknya terasa malam ini.
Dari suasana musim semi itu kesejukan dimulai oleh penampilan Randy
Ryan. Pianis muda kelahiran 9 Juni 1995 ini menunjukkan kemahirannya
dalam menjelajah tuts demi tuts piano dengan pendekatan yang sangat
cermat. Segala perubahan dinamika dan kontras antar bagian suara pada
tangan kiri dan kanan amat rinci digarapnya. Begitu pula dengan
kerapian tempo dan artikulasi yang cukup bervariasi itu dimainkannya
dengan sangat manis. Kehadiran Randy amat menyegarkan suasana dalam
mempersiapkan telinga para hadirin untuk menyimak pentas yang lebih
berat porsinya belakangan. Hanya satu saja kekurangan Randy, ia masih
berumur nyaris 13 tahun! Dan itu hanya membuat permainannya kurang
berenergi dikarenakan mungilnya jari-jemari dan lengan yang mendukung
permainannya. Namun saya percaya, seiring bertambah usianya, maka Randy
akan semakin mudah mencapai kematangan dalam bermusik. Sayang sekali
kami tidak memperoleh program ketiga karya yang dimainkan olehnya.
Menyusul berikutnya adalah karya komponis Perancis kelahiran Januari
1916, Henry Dutilleux, salah satu guru dari Mas Slamet Abdul Sjukur.
Karya "Ainsi La Nuit" (1976) telah menjadi salah satu repertoar musik
modern standar bagi grup-grup kuartet gesek, terutama mereka yang
berasal dari negaranya. Karya yang terdiri atas 7 bagian ini dimainkan
dengan sangat jeli dan cermat oleh Kuartet Diotima ini. Tiap bagian
menonjolkan efek-efek suara tertentu yang digarap maksimal. Kita dapat
menyimak para lulusan Konservatori Paris
dan Lyon ini memberi nyawa lewat permainan tekniknya, juga di
frase-frase yang liris dan dinamis. Karya modern rupanya menjadi
spesialisasi grup ini, karena dari informasi pada program yang
dibagikan, mereka ternyata telah menjadi langganan penampilan perdana
berbagai karya para komponis baru seperti Harrison Birtwistle,
Joël-François Durand, Michael Levinas, juga telah memperoleh aneka
penghargaan bagi CD album rekaman mereka atas
karya-karya Helmut Lachenmann dan Luigi Nono.
Kemudian karya kuartet gesek karya Debussy, yang adalah favorit saya,
juga dibawakan dengan perincian yang amat sangat tajam terutama oleh
cellist Pierre Morlet, yang merespon tiap bagiannya dengan kemampuan
teknis yang begitu mengagumkan. Begitu pula dengan Franck Chevalier,
pemain biola alto yang secara tidak kita sadari memiliki peran sebagai
pemimpin grup ini. Di karya ini kembali mereka menunjukkan tingginya
kemampuan individual masing-masing pemain, begitu pula dengan kemampuan
interaksi mereka sebagai suatu ensembel. Sapa-menyapa antar bagian
kalimat musikal saling dioper ke sana-ke mari dengan amat rapi.
Setelah istirahat maka mereka melanjutkan dengan memainkan kuartet
gesek no. 15, op. 132 karya Beethoven, dengan formasi yang diubah,
Naaman Sluchin yang tadinya memainkan biola-2 berganti posisi dengan
Zhao Yunpeng. Namun apa yang bisa ditangkap dari permainan mereka kini
adalah keeleganan musik klasik Wina dengan pendekatan Perancis. Tak
dapat dihindari pendekatan mereka menjadi sangat berbeda dengan harapan
saya akan musik ini. Mungkin sesungguhnya itu bukan hal yang buruk,
namun saya menjadi kurang terbawa dengan permainan mereka pada karya
ini. Namun kembali saya diingatkan akan kemampuan kompositoris
Beethoven yang sanggup mengolah materi seminimal mungkin menjadi
semaksimal mungkin. Ini terasa pada bagian ketiga, di mana bagian Coda
sangat dikembangkan menjadi seperti bagian yang dominan di sana.
Seorang teman pernah berujar bahwa dia kurang suka dengan Beethoven
yang terlalu bertele-tele dalam menyampaikan suatu ide musikal. Namun
itu hanyalah
pendapat yang amat subjektif.
Sepertinya pendapat saya terjawab pada akhir pertunjukkan. Setelah
selesai memainkan Beethoven, yang sepertinya hanya menjadi tambahan
program yang kurang signifikan malam itu, maka sambutan para penonton
sangatlah hangat, sehingga Kuartet Diotima memainkan sebuah encore yang
diambil dari bagian terakhir "American Quartet" karya Dvorak. Kembali
formasi awal digunakan dan kembali pula saya menikmati musik mereka.
Ternyata dugaan saya bahwa mereka lebih cocok memainkan musik yang
lebih modern terjawab di sini. Terutama Zhao Yunpeng lebih mampu
memainkan perannya sebagai pemain biola-1 yang membawa rekan-rekannya
kembali bersuara nyaring!
Akhirnya resital ini pun harus berakhir lah, setelah para pemain
berulangkali memberi hormat atas sambutan yang seperti tiada hentinya
meminta mereka kembali memainkan encore tambahan yang ternyata tak
kunjung mereka mainkan. Rupanya para penonton tidak mau rugi atas
pertunjukkan gratis ini mungkin? Padahal sepanjang pertunjukkan tiada
hentinya pula berbagai bunyi yang sangat mengganggu dihasilkan di
antara penonton. Sempat pula Franck menegur salah seorang hadirin di
bangku depan yang terus berisik dan akhirnya keluar ruangan di
pergantian program.
Ternyata tidak hanya tingkat permainan para musisi kita yang masih jauh tertinggal, tapi juga para penontonnya!
Andreas Arianto Yanuar.
Komunitas Musik Baru.
UPH Conservatory of Music.
Sonic People.
ketika,,,ketiak,,,ketaik,,,
March 31, 2008
hah,,,makin banyak yang bikin gw pusing soal diri gw sendiri. boro2 ngurusin hubungan gw dengan orang2 lain di sekitar gw. ternyata setelah gw tilik, gw hanya melangkah kecil saja dari kondisi gw di taon sebelumnya.
gw gak mau stagnan, gw mau perubahan!
tapi gimana caranya berubah bila semua yang gw lakukan, gw lakukan tidak dengan sepenuh hati sepenuh jiwa? yaa, gak semuanya kaya gitu jg sih, tapi setidaknya gw mulai merasa bahwa hidup gw harus diarahkan lebih jelas lagi ke suatu kondisi yang membuat gw merasa mampu menggapai titik yang lebih tinggi lagi, lebih jauh lagi, lebih dalam lagi.
gw ingin mengenal lebih lagi akan potensi yang gw miliki di dalam diri ini. gw ingin tau seberapa parah dampak yang bisa gw berikan kepada dunia di sekitar gw kalau gw melakukan ini itu selagi gw masih di usia yang amat sangat potensial untuk menimbulkan "kerusakkan" di bidang2 yang gw kuasai.
namun apakah itu akan terwujud jika gw hanya terus merenungi itu satu per satu?
bukan hanya itu, gw selama ini hanya berkutat pada hal2 sepele yang gw kira akan memberikan penghidupan yang layak dan modal yang cukup bagi gw untuk melakukan dan mencapai cita2 idealis gw itu. namun pada kenyataannya gw terlalu disibukkan oleh remeh-temeh yang makin menyita keseharian gw.
di antara begitu banyak prioritas, yang mana kah yang harus gw pilih?
mengajar? membuat aransemen dan komposisi musik? jadi anak band? membuat buku tentang peran para komponis modern Indonesia? menulis lebih banyak artikel yang menginspirasikan teman-teman gw? jadi klarinetis handal? lebih baik nabung duit untuk beli alat musik baru macam akordeon atau gitar steel string? yang manakah yang akan memberikan dampak yang berarti bagi orang-orang di sekitar gw?
akan jadi orang seperti macam apakah gw?
Ahmad Dhani, yang bertangan dingin namun hubungan interpersonalnya tidak secanggih karya-karyanya?
Gustav Mahler, yang dapat menjadi komponis besar dengan karya-karyanya yang megah, juga menjadi penampil musik karya para komponis pendahulunya dengan tafsiran yang sangat segar?
Rhoma Irama, yang terus menyuarakan idealismenya namun apa yang ia perbuat tak sesuai dengan bicaranya?
Inul Daratista, yang berkarya maksimal di negeri orang namun dicemooh oleh orang-orang sirik di rumahnya sendiri?
David NAIF, yang membanggakan karya-karyanya yang telah menjadi inspirasi bagi banyak musisi indie tanah air namun mencemooh band-band pendatang baru yang dinilainya kampungan dan tidak memenuhi standar kelayakkan sebagai suatu di dunia industri musik yang pada sesungguhnya membutuhkan sumbangsih karya yang bagus, bukan sekadar ocehan dan cemoohan belaka dari para pelakunya?
Pierre Boulez, yang pada awal karirnya mencemooh gurunya sendiri, namun pada gilirannya menjadi pendekar promotor musik modern, bahkan menjadi ikon perubahan tradisi musikal bangsa Eropa pada umumnya, bangsa Perancis pada khususnya?
Tan Dun, yang dengan ketenarannya mengukir cetak biru keabsahan pengkolaborasian musik tradisi Cina nya dengan musik klasik Barat, sehingga makin banyak orang mampu menikmati percampuran kedua budaya yang dominan di dunia ini?
Yo-Yo Ma, yang dengan kemampuan bermusiknya masih merasa butuh untuk mengembangkan diri, tak lagi di dunia musik klasik, namun melebarkan sayapnya dengan merambah musik dari berbagai tradisi, musik tango amerika latin, musik penduduk asli amerika utara, musik tradisi daerah mongolia, musik tradisi cina, dan mencari pencapaian artistik yang tak terbatas oleh tradisi, dengan melibatkan komponis-komponis baru untuk berkarya?
atau aku akan mengikut jejak para komponis tak dikenal, yang merasa dirinya idealis, namun tak pernah eksis?
sebuah pencarian jati diri yang tak akan henti kutempuh…
SIALAN!!
March 1, 2008
Darn!! Dasar musisi jenius yang (pantas untuk) arogan, haha..
Jadi ceritanya gini, baru2 ini gw pnasaran dan beli album The Rock dan Mulan Jameela, hehe.. Sebelum
ini, gw berpendapat bahwa karya-karya Mas Dhani, Yovie, dan Melly
Goeslaw (yang selama ini selalu berhasil mencetak hits) sudah mandek,
stuck, gaq bisa berkembang lebih oke lagi setelah era keemasan mereka
di tahun ‘90an-2000an awal. Karya2 mereka setelah itu hanya bisa
jualan, tapi secara musikal kurang punya bobot lagi.
Namun setelah
menyimak kedua album yg gw sebutkan barusan, gw berubah penilaian ttg
beliau. Justru cuma Mr. Ahmad Dhani saja yang terus melakukan
eksplorasi musikal, walau dari luar kita hanya bisa melihat sosok
arogan yang otoriter, hehe.. Dalam album The Rock, terdapat 5 track
lama yang diaransemen ulang dengan gaya big band swing dan Dhani mampu
menyanyikan lagu2nya dengan gaya jazz yang fasih. Siapa yang akan
menyangka pergeseran gaya musik yang dia usung hingga segitu jauhnya?
Dalam album Mulan pun gw menyimak detail-detail yang sungguh tak
terpikirkan akan keluar dari kepala seorang Ahmad Dhani of Dewa19. Gaya
musik dance pop a la Britney dan Tata Young berpadu dengan musik rock
dan sedikit tribal-techno menghasilkan musik yang tak pernah kita
dengar dari musisi negeri sendiri. Aneka sound yang diproduksinya sudah
setara dengan produksi musik pop kelas dunia!
Coba bandingkan
dengan album-album musisi seangkatannya seperti Ari Lasso, bahkan
dengan musisi-musisi pop pendatang baru seperti Samsons, Ungu, dan
sebagainya, maka kita akan dapat melihat siapa yang terus melakukan
eksplorasi musikal dengan idealis, dan siapa yang mengejar
komersialitas belaka. Namun yang lebih cerdas dari itu, siapakah yang
dapat membuat musik yang idealis namun tetap dapat dinikmati
orang-orang awam? Gw menyebutnya sebagai "Unselfish Idealism" dalam
bermusik, seperti yang telah dicapai, misalnya oleh Sting. Musik Sting
dari era The Police sangat berbeda dengan musiknya di era saat ini.
Sting terus melakukan eksplorasi ke ranah musik yang cukup jauh berbeda
dengan musik yang diusungnya di awal karir. Hingga kini Sting dipandang
sebagai musisi lintas jenis musik yang tetap menghasilkan musik yang
komersil.
Nah, kalo di Indonesia, persoalannya lebih sulit lagi.
Pasalnya, idealisme di sini (kebanyakan) dipandang oleh para pelakunya
sebagai pengharaman akan segala yang komersil. Dan di sisi lain yang
juga ekstrim, (kebanyakan) produser musik memandang idealisme sebagai
pengabaian terhadap komersialitas, kalo ngga jualan ngapain bikin
musik? haha… Itu sebabnya gw sangat salut dengan tokoh2 yang mampu
mendidik para penikmat musik untuk mencapai apresiasi yang lebih baik
tanpa memutus rantai segitiga antara Pemusik - Produser - Pendengar.
Di
dunia film Indonesia hal ini juga jelas terlihat: Film-film horor hanya
membutuhkan budget yang cukup rendah namun mendatangkan penghasilan
yang sangat tinggi, akibatnya banjirlah film2 lokal jenis ini di
bioskop kita. Apalagi di televisi. Bah! Mana ada sinetron yang oke
secara kualitas sih di Indosiar? hehehe….gw asal ngomong doang sih,
tapi gaq ada satu pun acara Indosiar yang oke saat ini, blm terhitung
di stasiun lainnya. Terus, gimana caranya memutus lingkaran setan ini
yah? Apa itu tergantung sama pemerintah doang? Moga2 mereka bisa lebih
peduli terhadap pendidikan moral masyarakat melalui media massa ini
sih. Nah, lebih tergantung lagi sama para pembuat keputusan di stasiun2
televisi, radio, dsb untuk memberi porsi yang sesuai untuk acara-acara
yang mengembangkan apresiasi seni masyarakat kita. Kasihan sekali
mereka dicekoki dengan tontonan yang buruk terus-menerus, moral dan
pola berpikir jadi terpengaruh olehnya.
Hihi, mau berbagi pemikiran aja. Mungkin banyak yang mau menanggapi, atau menyanggah,,,
Keputusan (Titik Kulminasi pt. 2)
February 15, 2008
Mengenai energi negatif yang gw dapatkan setelah mengalami sesuatu yang benar2 buruk, gw menyadari betapa besarnya energi tersebut dan betapa mengagumkan efek yang ditimbulkannya. Coba lihat saja kembali ke masa lampau, di mana para komponis besar menyalurkan kekecewaannya akan dunia di sekitarnya dengan karya yang sensasional, monumental, fenomenal dan inspirasional. Tak hanya komponis, namun juga para seniman dunia pada umumnya, mereka bereaksi secara keras terhadap gejala sosial yang terjadi di sekitarnya.
Awalnya gw merasa ini sebagai gejala yang mulai tampak pada diri gw. Namun suatu kejadian kecil memberikan gw suatu sudut pandang yang baru. Kejadian yang baru saja terjadi kemarin sore sepulang gw dari Karawaci.
Saat itu gw hendak turun dari angkot dan membayar seribu rupiah kepada sang supir sebelum si supir protes bahwa gw kurang gopek.
Gw lalu hanya bertanya, "wah, dari kapan Mas?"
"Yee, uda dari lama kali", dengan nada dan wajah yang jengkel.
"Loh, biasa dari situ kan deket cuma seribu?"
"Berarti kamu yang selalu bayar kurang", sambil wajah yang makin seperti mau makan orang.
Gw bayar kekurangannya dan bilang, "Ya udah, nyantai aja kali, Mas", sambil melangkah pergi. Namun sang supir malah makin menjadi dan gw rasa akan memperkeruh suasana kalau gw tetap berdiri di depan makhluk buas itu.
Itulah yang dinamakan dengan energi negatif, yang ternyata mampu menghasilkan hal-hal yang ternyata TIDAK besar dan TIDAK berarti, karena energi tersebut berdiam pada orang yang tidak tepat. Dan gw sadar banget akan hal itu, bahwa begitu banyak orang yang ingin bereaksi secara keras terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, di mana mereka merasa begitu banyak kejadian tidak adil yang menimpanya, tanpa menyadari bahwa mereka pun turut ambil bagian di dalamnya. Energi negatif yang terkumpul demikian besar dan banyak namun manusia yang mampu mengendalikannya demikian sedikit dan terbatas jumlahnya.
Gw gaq pengen jadi orang-orang seperti itu.
Di malam harinya gw ngobrol dengan kakak gw, yang memikirkan kembali jalan hidup yang harus ia tempuh. Ia sedang bingung akan keputusan yang diambilnya sendiri. Keputusan itu berkaitan dengan kesadaran bahwa setiap orang yang berani keluar dari zona nyamannya sendiri untuk melakukan hal-hal baru akan mampu mencapai hasil yang jauh lebih tinggi dari apa yang dimilikinya saat ini. Namun ternyata keputusan itu sedikit bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia inginkan untuk lakukan dalam hidupnya.
Gw hanya bisa memberi sedikit saran kepadanya. Keluarlah dari zona nyamanmu untuk melakukan hal-hal yang kau sukai dengan cara-cara yang baru, cara-cara yang lebih menantang dan cara-cara yang mungkin akan lebih beresiko. Kita tahu bahwa banyak sekali teman dan saudara kita yang menyukai suatu hal dan suatu bidang dengan sangat tekun dan bergairah, namun mereka tidak mau mengambil keputusan yang besar dalam hidupnya, mereka takut akan terpuruk bila resiko itu tak dapat mereka tanggung.
Well, what can I say? Hidup hanya sekali, sobat! Jalanilah hidupmu sebaiknya dan capailah apa yang menjadi impianmu, berapa pun harganya!
Keputusan yang mahal akan menghasilkan sesuatu yang bernilai dalam hidup bila kita dapat menjalaninya dengan langkah yang tepat pula. Kata orang, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki generasi muda. Namun gw bilang, idealisme yang dijalani dengan kecakapan yang cukup adalah apa yang memampukan kita tetap bertahan dalam hidup.
Jadi, apa keputusan yang mau lo ambil dalam hidup?
Titik Kulminasi pt. 1
February 13, 2008
Beberapa minggu yang lalu gw berada di puncak emosi gw saat diperhadapkan dengan kondisi yang sangat-sangat menjengkelkan dan mengesalkan. Masalah yang datangnya dari tempat terdekat, orang-orang terdekat, yang gw kira bakal bisa gw atasi, namun nyatanya tidak. Hal itu belum pernah gw alami sebelumnya, dan saat di mana kita mengendapkan segala kekesalan dan emosi maka banyak sekali hal yang terlintas di benak, yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Terutama energi negatif yang hampir meluap dan tumpah-ruah, membuat pikiran dan perasaan mampu melakukan hal yang hebat, besar, namun tak tahu apa jadinya kalau itu yang menguasai gw.
Gw rasa hampir semua orang akan berkomentar: "tenanglah, jangan lakukan hal yang akan kau sesali." Namun gw ga yakin semua pernah berada di kondisi seperti itu. Pernahkah?
-bersambung-
Judulnya Manusia yang Hidup
December 10, 2007
Hidup sebagai manusia memang sebuah berkah.
Berkah yang kadang datangnya disertai oleh berbagai macam perasaan.
Perasaan yang timbul karena berbagai
macam kejadian.
Kejadian-kejadian dan peristiwa yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini.
Sekarang ini adalah saat kita untuk terus belajar dan moga-moga bisa nularin
hal positif buat orang lain.
Orang lain pun juga memiliki pengalamannya sendiri, sehingga mereka memiliki
pandangan hidup yang bisa saja berbeda dengan kita.
Berbeda dengan kita, karenanya kita harus bisa saling memahami.
Saling memahami supaya kita gaq terus-terusan saling menuntut.
Saling menuntut hanya berbuntut pada kekesalan yang terus ada.
Kekesalan yang terus ada ini sebenarnya gaq perlu.
Gaq perlu kita pendam, jika saja kita bisa setidaknya memaklumi.
Memaklumi pula kenapa orang-orang lain gaq seluruhnya bisa memiliki cara pikir
yang sama dengan kita.
Yang sama dengan kita hanyalah bahwa mereka menyimpulkan kehidupan lewat
pengalamannya masing-masing, juga dengan cara bagaimana mereka dididik saat
mereka kecil.
Saat mereka kecil, belum tentu mereka mengalami kesulitan yang dulu kita
rasakan, belum tentu mereka menikmati apa yang pernah kita miliki, belum tentu
mereka bertemu orang-orang yang kita temui.
Orang-orang yang kita temui di lingkungan kita pun tak sedikit turut
mempengaruhi selera makan kita, selera musik kita, selera humor kita, juga
selera kita akan pasangan hidup.
Pasangan hidup, jangankan ngomongin soal itu, dengan kekasih kita saja belum
tentu kita mampu memahami diri mereka.
Memahami diri mereka mungkin memang sulit, namun kita bisa menghargai perbedaan
yang ada.
Perbedaan yang ada itu pulalah yang membuat kita berbeda dengan makhluk
lainnya.
Makhluk lainnya tidak diberkahi dengan kemampuan dan cara pandang.
Kemampuan dan cara pandang kucing akan hidup sudah pasti jauh lebih sempit dari
manusia.
Manusia mencoba memelihara dan menyayangi kucing.
Kucing cuma tahu bahwa ia butuh makan dan sedikit belaian.
Belaian dan makanan di tempat lain lebih enak, maka ia akan meninggalkan
tuannya.
Tuannya gaq bisa memaksa kucing untuk tetap tinggal, karena kucing memang bodoh
dengan kemampuan otak seperti itu.
Seperti itu juga lah yang gw denger dari hasil diskusi gw dengan sepupu
sekaligus sobat lama gw.
Sobat lama gw yang kini mendalami ilmu seni di bandung, dan saat ini sama-sama
memiliki kegelisahan akan tujuan dan arti hidup sebagai pelaku seni di saat ini
dan saat yang akan datang.
Saat yang akan datang, tidak seorang pun tahu, namun semua orang sanggup
menentukan sikapnya di masa depan mulai dari saat ini.
Saat ini pula sesungguhnya gw menulis sambil meringis menahan rasa.
Rasa perih sekaligus lirih atas apa yang menimpa gw semalam tadi.
Semalam tadi sambil memikirkan tentang metafora kucing, gw berkendara dengan
motor gw.
Motor gw yang biru, motor gw yang pertama, motor gw yang kini udah lunas, motor
gw yang ikut mengalami hampir semua yang gw alami, motor gw yang setia namun
tidak mampu memiliki cara pandang karena ia bukan makhluk hidup.
.
.
.
.
.
.
Hidup ternyata memang suatu berkah.
Berkah yang datang lewat kejadian-kejadian menyenangkan maupun menyebalkan juga
menyakitkan.
Menyakitkan karena metafora kucing pun menjadi kenyataan bagi gw.
Gw yang memang gaq punya rasa benci terhadap kucing namun harus dihadapkan pada
kenyataan bahwa kucing memang bodoh.
Bodoh dan kadang bisa membawa petaka.
Petaka di kala mereka mencoba melintasi jalan dengan perhitungan yang selalu
egois.
Egois bagi pengguna jalan yang berusaha untuk tidak egois dengan secara refleks
menghindar untuk tidak melintasi sang makhluk egois tersebut.
Sang makhluk egois tersebut pun selamat tanpa cedera, mungkin hanya sedikit
shock.
Shock yang gw rasakan melebihi yang ia rasakan karena gw lah yang cedera, mencicipi
aspal bersama motor gw yang lagi-lagi turut mengalaminya.
Mengalaminya lagi membuat gw semakin yakin bahwa manusia gaq akan berhenti
belajar.
Belajar bahwa ia adalah manusia yang hidup, sesuai judulnya.
Fungsi Spesial Sebuah Helm
November 4, 2007
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah kejadian spesial yang membuat gw mengetahui fungsi khusus lain dari sebuah helm. Namun waktu berlalu diiringi kejadian-kejadian spesial lainnya sehingga penulisan naskah ini pun tertunda.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa sebuah helm amat sangat berguna untuk melindungi tubuh kita, terutama bagian kepala, bila terjadi kecelakaan, baik itu kecelakaan yang terencana maupun yang tak terduga, baik itu kecelakaan fatal maupun kecelakaan sepele. Namun ada baiknya kita menyimak dan mengamati kisah berikut ini dengan tujuan agar bersama-sama kita makin mengerti pentingnya sebuah helm saat kita berkendara. Pesan ini tidak didukung oleh Dinas Ketertiban Lalu-Lintas, juga tidak didukung oleh kepolisian setempat.
Malam itu baru saja gw pulang dari rumah seorang teman gw yang spesial.
Dengan suasana hati yang cukup spesial maka meluncurlah gw dengan roda dua yang juga terasa spesial.
Tikungan demi tikungan terlewati,
begitu pula tiap belokan dan gang,
tidak lupa jalan-jalan lebar dan sempit,
termasuk yang halus maupun berbatu-batu.
Dan sampailah gw di dekat belokan di mana gang gw terletak.
Tempat di mana terletak pula rumah makan bubur 24 jam — yang menjadi latar belakang cerita gw terdahulu (baca artikel bodoh at rumah makan - red.) — yang kebetulan di saat kejadian berlangsung, tidak sedang buka 24 jam karena sedang libur Lebaran (aha, masih dalam suasana liburan yang juga spesial, bukan?)
Kebetulan pula para penunggu rumah makan (baca: para waiter) rupanya sedang nongkrong bersama di depan rumah makan yang tidak sedang beroperasi itu.
Dengan suasana hati yang masih dalam kondisi spesial itu, gw sedang meluncur dengan roda dua gw tanpa menarik handle gas, juga tanpa menggunakan tangan saat meluncur, dengan tujuan untuk lebih merasakan spesialnya malam itu.
Tentunya kendaraan pun harus dilambatkan bila ingin berbelok, bukan?
Dengan penuh percaya diri gw memindahkan gigi dari posisi 4 ke posisi yang lebih rendah.
.
.
.
.
.
.
tanpa mengingat bahwa gw perlu mengembalikan tangan gw ke posisi setir yang normal.
.
.
.
.
(bagi para pembaca yang juga pengemudi motor, pasti mengerti akibatnya bila itu terjadi, bukan begitu?)
.
.
.
ya, saya terjatuh,
,
,
,
disaksikan para penunggu rumah makan yang saat itu baru saja mendapat tontonan unik dan bodoh dari seorang pengemudi tak dikenal.
Dan gw ingat bahwa sesaat sebelumnya, ada seseorang dari mereka yang menyoraki gw yang sedang meluncur tanpa tangan itu.
Hahaha, dan gw lebih ingat lagi bawa sesaat setelahnya, tidak hanya seorang, namun SEMUANYA tertawa melihat kejadian itu,,
Tentunya dengan sigap saya langsung mengembalikan tubuh dan motor kembali ke posisi normal,
dan dengan sigap pula saya langsung mengembalikan keduanya kembali ke rumah.
PESAN MORAL:
Tanpa maksud menggurui, saya tak akan mencoba mengingatkan anda untuk tidak berpegangan saat berkendara, namun ada yang lebih penting dari itu.
Jangan coba-coba melakukan perbuatan bodoh tanpa menutupi wajah Anda!
Nyatanya, gw selamat dari kehilangan muka (again) malam itu….
Sungguh, kejadian yang juga spesial.
Urusan Hati
October 17, 2007
Coba perhatikan hal-hal yang disebutkan di bawah ini:
-mencoba untuk memberikan yang terbaik buat seseorang
-mencoba untuk membuat seseorang itu bangga
-mencoba untuk membuat ia merasa nyaman berada di dekat kita
-mencoba untuk mendengarkan apa yang ia katakan
-mencoba untuk membuatnya bahagia lewat kehadiran kita
apakah dengan melakukan itu semua kita otomatis telah menunjukkan yang disebut dengan "menyayangi" ?
Gw saat ini gaq yakin apakah dengan mencoba melakukan itu semua bagi orang tua, teman terdekat atau bagi siapa pun itu, sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa gw sayang sama mereka? Karena menurut gw, gw melakukan itu semua bukan karena cinta, namun karena gw hanya ingin menjadi orang yang mereka harapkan. Gw melakukan itu karena gw gaq enak ati kalo gw gaq bisa membalas sedikit saja kebaikan dan kemurahan yang telah mereka berikan dan lakukan pada gw.
Pada suatu titik tertentu, ternyata gw gaq bisa menjadi orang yang gw harapkan sendiri. Kenapa? Karena selalu ada harapan orang lain akan diri gw yang gaq sesuai dengan itu. Gw ingin jadi diri gw sendiri, mengambil keputusan yang gw yakin, meraih apa yang gw inginkan, namun semua gaq mungkin bisa semudah itu diwujudkan, bahkan ada hal-hal yang gaq mungkin bisa terkabul.
Pada akhirnya akan selalu ada yang disakiti, entah itu gw dengan keinginan gw sendiri, entah itu orang lain dengan harapan mereka akan diri gw. Gw baru saja menyakiti diri gw sendiri, dan pada saat yang sama gw bahkan menyakiti seseorang lebih dari sakit yang gw rasakan. Apakah kata "maaf" bisa menyelesaikan? Gw pikir nggak ada gunanya.
Dengan demikian, gw gaq mau menaruh harapan terhadap orang lain, karena sudah cukup lah harapan orang lain akan diri gw sendiri. Kalo emang gaq sesuai dengan kenyataan, maka gw gaq perlu lagi repot-repot membereskan sisa-sisa impian yang hancur, juga serpihan hati yang tercecer karena remuk ditekan angan yang terlalu membuai diri dengan kehampaan.
Apa gw terdengar pesimistis dengan pemikiran ini?
Ternyata gw gaq terlalu jauh berbeda dengan suatu bayangan yang gw benci akan pemikiran orang-orang sinis. Gw menjadi seorang yang gw benci sendiri.
cinta?
September 30, 2007
masih saja gw mencoba untuk membahas soal ini.
walau itu bukan berarti gw cukup mengerti tentangnya.
karena sampai sekarang pun gw hanya punya secuil pengertian akan cinta.
kasih, sayang, perhatian, waktu, tenaga, romantisme, dan sebagainya seperti sudah jadi unsur intrinsik yang wajib ada di dalam cinta.
mungkin memang demikian halnya.
namun cinta yang gw pahami bukanlah sebuah benda yang mempunyai sifat timbal balik.
entahlah, namun selalu ada cinta yang diberikan orang lain padaku - entah itu dari orang tua, saudara, teman, bahkan mungkin kekasih - namun nampaknya aku tak pernah bisa membalas sebanyak yang mereka berikan.
di lain sisi, gw sadari hal sebaliknya pun terjadi: cinta yang kuberikan tak kunjung memberi arti bagi mereka yang menerimanya.
karena bagiku cinta yang kuberikan sudah cukup, namun bagi mereka yang menerimanya hal itu bukanlah seperti yang mereka harapkan.
kukira dengan pencapaianku di berbagai bidang maka orang tua ku akan bahagia.
namun aku tidak sepenuhnya benar.
mereka hanya ingin aku memiliki cukup waktu bagi mereka.
kukira dengan sering mengajak teman-temanku makan maka mereka menyukaiku.
namun mereka hanya ingin aku sering ada untuk mereka.
aku menginginkan balasan yang kuharapkan dari seseorang.
namun bukanlah itu yang dia harapkan.
mungkin dia hanya mengharapkannya bukan dari diriku.
dan karena hal itu terasa kurang mengenakkan bagiku, maka kucoba untuk tidak bersikap seperti itu terhadap orang lain yang mungkin berharap padaku.
kucoba untuk tidak berharap pada orang lain, melainkan kucoba untuk berharap pula padanya.
entahlah, namun harapan itu rupanya adalah harapan yang ternyata kumiliki dan kusimpan sejak dulu.
harapan yang tersembunyi di balik wujud yang kurang mudah kukenali.
tidak seperti harapanku akan apa yang nampak dan kasat mata,
namun harapan yang ada di balik penampakan luar.
hah, gw tetep gaq ngerti yang namanya cinta..
yang pasti, toh gw gaq takut untuk mencoba ‘kan?